Selasa, 10 Desember 2013

Melihat dunia dari 55mm

Post ini, terutama, untuk kamu yang masih belajar mengenali lensa kit 18-55mm yang datang bersama dSLR yang baru mulai kamu gunakan. Mungkin kamu sudah banyak mendengar cerita teman-teman tentang lensa ini dan itu yang membuat kamu merasa lensa zoom yang kamu punya ini masih sangat standar. Tapi tunggu dulu, dengan eksplorasi lebih, kamu bisa mendapatkan banyak sekali pengalaman lewat satu lensa ini saja. Fotonela pernah membahasnya di artikel yang lalu. Tapi kali ini, kita akan lihat apa yang bisa didapat melalui ujung telephoto pada lensa kit-mu, yaitu pada focal length 55mm.
Para fotografer biasanya menggunakan ujung telephoto pada lensa zoom untuk keperluan semacam macro atau candid. Idealnya, ukuran 200mm bisa memberi kamu banyak keleluasaan untuk dua jenis genre fotografi tadi. Dengan 55mm dan bukaan aperture maksimal f/5.6, kamu mungkin akan memperhatikan bahwa foto-foto “macro” kamu belum menunjukkan bokeh yang sempurna, atau saat kamu ingin memotret candid kamu masih harus mendekat ke jarak yang kurang nyaman. Lalu akhirnya kamu jarang menggunakan ujung telephoto ini dan lebih sering memakai ujung lebar-nya untuk memotret landscape.
Kamu harus tahu bahwa focal length 55mm banyak gunanya. Saya sendiri lebih sering menggunakan ujung telephoto dibandingkan wide angle pada lensa kit 18-55mm. Kenapa? Karena jarak ini bisa memberi saya frame yang ketat, penuh, dan menunjukkan banyak detil. Yang paling saya suka adalah depth of field-nya yang dangkal saat saya membuka lebar aperture. Fotografer yang kreatif akan berpikir out of the box. Demikian juga saat ia menggunakan lensa telephoto. Berpikirlah diluar bunga, serangga, atau tekstur. Berpikirlah “kecil”. Mungkin kamu terbiasa melihat dunia yang maha luas melalui landscape, sesekali beralihlah ke hal-hal kecil di sekelilingmu.
Proyek 55mm kita kali ini adalah menciutkan diri dan membuat dunia baru yang serba kecil.
bajukitty2
55mm, 1/400 detik, f/5.6, ISO 100
kittymeals
Intinya tentu sama seperti saat memotret macro, tapi dengan pendekatan close-up, kita tidak merasa dituntut untuk menampilkan latar belakang yang sangat creamy dan super bokeh. Kita bisa memanfaatkan barang-barang kecil dan memperlakukannya seperti memotret objek ukuran normal, dimana area out-of-focus tidak terlalu esensial. Kamu bisa memanfaatkan action figure, mainan, pajangan, dan semacamnya. Kamu bisa memotret benda-benda ini sendiri atau menggabungkannya dengan dunia besar untuk memperkuat kesan mini dalam fotomu.
Untuk inspirasi yang luar biasa, kamu bisa lihat foto-foto dari Zev Hoover yang sempat menjadi pembiaraan beberapa waktu lalu karena ide dan keindahan hasil karyanya yang menggabungkan dua dunia menjadi satu.
Selain dua dunia, Zev juga memanfaatkan dua focal length. Tele untuk benda-benda kecil, dan wide angle untuk memotret dirinya sendiri. Ini pasti memberikan pandangan baru untukmu kan? Selain itu, proyek seperti ini bisa disebut proyek nyaman yang tidak diburu waktu seperti jika kamu menunggu golden hour dan semacamnya. Kamu bisa melakukan ini di rumah dengan benda-benda di sekelilingmu sekaligus belajar memahami fotografi still life.
Jadi, jangan dulu terburu-buru mengganti lensa. Coba dulu manfaatkan apa yang kamu punya, karena kemungkinan yang bisa kamu dapat sungguh tidak terbatas. Semuanya hanya soal kreativitas.
Selamat bereksperimen :)

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai permulaan

1. Isi baterainya semalaman : Tujuannya adalah mempersiapkan baterai untuk penggunaannya pertama kali setelah keluar dari kondisi pabrik. Jaman dulu, baterai jenis lithium ion ini harus dikosongkan dulu sebelum mulai diisi penuh untuk menjaga keawetannya. Tapi dengan teknologi yang ada sekarang, kamu tidak perlu melakukan ini. Baterai bisa diisi kapanpun karena tidak memiliki memori pengosongan, TAPI ia punya memori pengisian. Kalau kamu sudah melepas baterai dari charger sebelum penuh dan menggunakannya, maka akan cepat rusak.
Kamu juga bisa baca tentang cara menghemat baterai di sini.
2. Atur tanggal dan waktu : Ini penting untuk kamu dan foto-fotomu. Akan aneh ketika nanti kamu harus mengatur file-file fotomu berdasarkan tanggal dan semuanya berantakan karena data EXIF yang tidak benar.
3. Atur diopter : Ini adalah putaran kecil dengan tanda -/+ di samping viewfinder. Banyak pemilik kamera yang melalaikan pengaturan ini, padahal dengan menyesuaikannya dengan benar sesuai kondisi matamu, fokus pada foto akan lebih mudah didapat saat memotret. Caranya, putarlah kenop ini sampai kamu bisa melihat text di viewfinder dengan jelas.
disinilah letak kenop diopter
disinilah letak kenop diopter
4. Format memory card : Untuk mencegah penomeran foto ‘seolah-olah’ tidak dimulai dari awal, ingatlah untuk memformat memory card yang akan kamu gunakan di dSLR barumu di dalam kamera. Ini juga bagus untuk penyesuaian kartu dengan kamera yang akan menggunakannya.
Baca juga tentang perawatan memory card di sini.
5. Baca buku manual : Penting! Meskipun banyak yang malas melakukan ini dan lebih suka langsung belajar ketika memakai kameranya, tapi buku manual dibuat untuk dijadikan panduan. Pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan kamu masukkan ke forum atau ke Google mungkin sebenarnya sudah ada di buku manual. Jadi, jangan malas membacanya. Kenali kameramu, semuanya ada di situ. Kamu bisa melakukannya sambil menunggu baterai-nya terisi.
baca! baca! baca!
baca! baca! baca!
6. Jangan mencobanya secara berlebihan : Kamera punya ‘masa belajar’ sama seperti fotografer yang menggunakannya. Jadi, kalau saat pertama digunakan ada yang terasa janggal di bagian fokus – misalnya – jangan terus-terusan mengutak-atiknya atau mencoba mengkalibrasinya berkali-kali. Gunakan dengan wajar, dan kameramu akan menyesuaikan diri bersama waktu pemakaiannya. Hanya karena kamu punya masa garansi 1 tahun, bukan berarti harus mencari-cari kesalahan produksi dalam rentang itu, kan?
7. Masukkan informasi pemilik : Jangan lupa masukkan namamu ke dalam kamera sehingga nantinya akan muncul dalam data EXIF. Bagus untuk keselamatan kamera dan foto-fotomu. Caranya? Gunakan software yang datang satu paket dengan kamera yang kamu gunakan.
Itu saja. Sederhana tapi penting, dan selalu penting untuk tetap terkendali meskipun kamu dalam keadaan sangat-sangat bersemangat dan senang. Termasuk ketika pertama kali menggunakan dSLR ;)
Nama ku ayukusuma wardani, tujuan membuat blog ini dibuat agar para pemula pengguna DSLR agar dapat menggunakannya dengan benar agar dapat menghasilkan suatu gambar yang bermutu tinggi. sekian tentang tujuan pembuatan bloger semoga berhasil dan selamat mencoba :)

Cara memegang camera DSLR dengan benar

Digital Single Lens Reflex (Digital SLR atau DSLR) adalah kamera digital yang menggunakan sistem cermin otomatis dan pentaprisma atau pentamirror untuk meneruskan cahaya dari lensa menuju ke viewfinder.
Cara Kerja
Kamera SLR menggunakan Pentaprism atau yang biasa disebut cermin segi lima yang letaknya diatas jalur optis melalui lensa dan akan disalurkan ke lempengan film untuk kamera analog atau sensor pada DSLR .
Setelah itu cahaya yang masuk akan dipantulkan ke bagian atas melalui cermin pantul dan setelah itu baru mengenai pentaprism.
Pentaprism akan memantulkan cahaya beberapa kali hingga menyentuk viewinder (pembidik). Saat shuter dilepaskan, kaca akan membuka jalan bagi cahaya supaya bisa masuk langsung mengenai Negative film untuk Analog SLR atau lempengan sensor digital untuk DSLR.
 

fotografi DSLR pemula

Belajar fotografi pakai kamera DSLR pemula atau langsung yang canggih?

Sering saya mendapatkan pertanyaan apakah sebaiknya pemula dalam hobi fotografi sebaiknya membeli kamera DSLR pemula atau yang canggih sekalian? Saya pribadi menyarankan membeli kamera untuk pemula terlebih dahulu meskipun kita memiliki dana yang cukup untuk kamera yang lebih canggih.
Alasan dari calon pembeli yang ingin membeli kamera yang canggih biasanya karena tidak mau ganti-ganti kamera di masa depan, tapi teknologi kamera terus berkembang, upgrade kamera di masa depan tidak terelakkan, namun, bagaimana kita bisa tahu bahwa kamera canggih sasaran kita akan memenuhi kebutuhan fotografi kita?
Biasanya, calon pembeli peduli dengan kualitas gambar yang dihasilkan. Kamera canggih dianggap dapat membuat foto dengan kualitas yang lebih bagus. Sebenarnya, jika dikaji dari kualitas gambar, perbedaan antara kamera DSLR pemula dengan kamera canggih yang memiliki ukuran sensor gambar yang sama tidak berbeda atau tidak jauh bedanya. Kamera DSLR Canon 550D, 600D, 60D sampai 7D kualitas gambarnya kurang lebih sama. Dalam hal ini, teknik fotografi dan kualitas lensa lebih menentukan kualitas gambar.
KELEBIHAN – KEKURANGAN KAMERA DSLR PEMULA
Kamera pemula memiliki antarmuka desain yang lebih sederhana dan ilustratif. Misalnya di Nikon D3200 atau D5200, kita bisa melihat ilustrasi bukaan lensa saat mengganti nilai bukaannya (f). Angka-angkanya juga lebih komplit, misalnya shutter speed ditulis 1/100 detik dan angka bukaan lensa  f/8. Di kamera canggih, nilai shutter speed disingkat menjadi 100 dan bukaan lensa menjadi 8.0
Ada panduan dan peringatan juga. Misalnya di kamera DSLR pemula Canon, setiap mengganti mode kamera atau fungsi kamera, akan muncul sedikit ulasan tentang mode dan fungsi kamera tersebut. Di kamera DSLR Nikon pemula, ada peringatan jika setting yang kita tetapkan akan menyebabkan subjek foto terlalu gelap atau terlalu terang.
Tentunya, DSLR pemula juga memiliki lebih banyak fungsi AUTO-nya yang akan mencoba menyesuaikan setting kamera terbaik dengan subjek foto/pemandangan. Keuntungan lain dari kamera pemula adalah biasanya ukurannya relatif  ringan dan ringkas.
Antarmuka Nikon D5200 yang ilustratif. Gambar bukaan/diafragma akan membesar dan mengecil sesuai dengan nilai F yang disetting.
Antarmuka Nikon D5200 yang ilustratif. Gambar bukaan/diafragma akan membesar dan mengecil sesuai dengan nilai F yang disetting.

KELEBIHAN – KEKURANGAN KAMERA DSLR CANGGIH
Sebenarnya, langsung membeli kamera digital yang canggih juga dapat mengantarkan kita ke tujuan kita. Keuntungan dari langsung membeli kamera digital canggih adalah memiliki badan kamera yang lebih kokoh. Biasanya dibuat oleh bahan plastik yang lebih keras atau logam magnesium alloy. Ada LCD tambahan membantu untuk melihat setting-setting kamera dengan cepat dikondisi apa saja, gelap ataupun terang. Kamera canggih juga biasanya memiliki kinerja lebih cepat, dan daya tampung buffer foto berturut-turut yang lebih lapang. Baterai yang digunakan juga lebih besar sehingga dapat memotret lebih lama sebelum mengganti baterai/cas.
Kekurangannya, kamera canggih lebih sulit dipelajari karena lebih sedikit panduan di kamera, penulisan setting biasanya disingkat-singkat dan dilambangkan dengan simbol-simbol saja, sehingga pemula perlu lebih banyak mengingat/menghapal. Tombol-tombol dan menu item yang banyak juga dapat membuat pusing.
Bagi yang hanya ingin mengunakan kamera tanpa mempelajari dasar fotografi, tentunya tidak tepat membeli kamera yang sangat canggih, karena fungsi otomatisnya tidak banyak atau malahan tidak ada sama sekali. Contohnya Nikon D700 dan D800 tidak memiliki mode Full Auto / Scene Mode. Di lain pihak, kamera Canon 5D mark III tidak memiliki lampu kilat terpasang, yang kadang-kadang praktis digunakan untuk memotret subjek dalam posisi backlight.
Cari fungsi Auto di kamera DSLR canggih Nikon D800? Sayang sekali, gak ada tuh, yang ada tombol2 fungsi lainnya.
REKOMENDASI
Kamera digital saat sekarang perbaharuannya juga cepat, setiap kali produsen kamera membuat kamera baru yang lebih canggih, kamera lama turun harga, dalam setahun, kurang lebih penyusutan harga kamera bekas sebesar 20% pertahun. Dengan mengunakan kamera DSLR pemula terlebih dahulu, kita dapat menghemat. Saat kita sudah menguasai fotografi dan siap untuk upgrade, kita bisa membeli kamera yang lebih tepat sesuai yang kita butuhkan. Tidak semua orang membutuhkan kamera canggih, dan orang yang membutuhkannya, memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Secara alami, kita akan mengetahui kamera canggih yang kita perlukan dari pengalaman yang didapatkan saat mengunakan kamera pemula.
Maka itu, saya sarankan bagi yang baru ingin belajar untuk mengunakan kamera pemula terlebih dahulu, setelah menguasai semua tombol, fungsi, menu kamera dan mempelajari teknik fotografi yang baik baru upgrade ke kamera yang lebih canggih. Dengan demikian perjalanan belajar fotografi kita lebih mulus jalannya. Bagi yang sudah terlanjur memiliki kamera DSLR canggih, jalan memang lebih terjal, tapi jangan menyerah meskipun perlu lebih  semangat lagi untuk belajar.
Jangan lewatkan jadwal belajar fotografi, editing dan tour infofotografi.
ISO 80, f/2.8, 1/190 detik, Ricoh GRD IV , editing monochrome sepia via Adobe Lightroom
Jalan berbatu-batu dan terjal, tapi masih bisa ditempuh, semangat! – ISO 80, f/2.8, 1/190 detik, Ricoh GRD IV , editing monochrome sepia via Adobe Lightroom

Photograpy

Photography (derived from the Greek photos- for "light" and -graphos for "drawing") is the art, science, and practice of creating durable images by recording light or other electromagnetic radiation, either chemically by means of a light-sensitive material such as photographic film, or electronically by means of an image sensor.[1] Typically, a lens is used to focus the light reflected or emitted from objects into a real image on the light-sensitive surface inside a camera during a timed exposure. The result in an electronic image sensor is an electrical charge at each pixel, which is electronically processed and stored in a digital image file for subsequent display or processing.
The result in a photographic emulsion is an invisible latent image, which is later chemically developed into a visible image, either negative or positive depending on the purpose of the photographic material and the method of processing. A negative image on film is traditionally used to photographically create a positive image on a paper base, known as a print, either by using an enlarger or by contact printing.